Yogyakarta, Hepatitis adalah penyakit radang hati yang
gejalanya kerap tidak disadari. Meski demikian, dampak penyakit tersebut
bisa sangat mematikan seperti menyebabkan sirosis atau kanker hati.
Bahkan, kini hepatitis dikelompokkan ke dalam jajaran penyakit infeksi
paling mematikan di dunia.
"Dua jenis hepatitis yang benar-benar
menyebabkan masalah serius bagi masyarakat ialah hepatitis B dan C,
dengan 1,4 juta kematian setiap tahunnya. Detilnya 800.000 meninggal
akibat hepatitis B dan sisanya hepatitis C. Ini menurut versi WHO tahun
lalu," tutur Dr David Muljono, Kepala Penyakit Menular yang Sedang
Timbul di Institut Eijkman, Jakarta.
David juga menuruturkan
bahwa hepatitis menempati peringkat ketiga dunia sebagai penyakit
infeksi penyebab kematian paling banyak. Posisi tersebut di bawah
infeksi pernapasan dan HIV/AIDS. Jumlah kematian akibat infeksi
pernapasan, HIV/AIDS, dan hepatitis berturut-turut adalah 2,8 juta, 1,5
juta, dan 1,4 juta.
Mengapa hepatitis mematikan? Hepatitis
mematikan lantaran memicu siriosis maupun kanker hati. Seperti tertuang
dalam World Cancer Report 2014, kanker hati merupakan kanker nomor dua
yang paling banyak menyebabkan kematian di seluruh dunia.
"Dua
bulan yang lalu buku World Cancer Report 2014 ini dirilis," terang
dokter yang pernah mendapat Medali Satyalancana Karya Satya dari
Presiden Indonesia itu. Ia menambahkan, "Dan kini kanker hati menempati
urutan kedua sebagai kanker yang paling banyak menyebabkan kematian di
seluruh dunia."
Tak hanya itu saja, data juga menunjukkan bahwa
di Asia Pasifik, penyebab kematian tertinggi karena penyakit infeksi
adalah hepatitis. Posisi tersebut kemudian diikuti oleh tuberkolosis.
Meski demikian, lanjut David, dana yang dialokasikan WHO untuk
menanggulangi hepatitis tergolong minim dibanding alokasi untuk penyakit
lain.
"Kontras dengan situasi dunia, dana untuk hepatitis
sangat kecil. Hal ini dikarenakan masalah terkait hepatitis kerap tak
disadari. Tetapi untungnya kini perlahan orang-orang mulai mengerti,"
terangnya dalam Seminar Penelitian Inovatif Australia-Indonesia di
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada pada Senin (5/5/2014).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar